Oleh : Fauziah Kholida
Awalnya merasa seperti terjebak!
Ya, saya terjebak. Tetapi selanjutnya saya menyukai, mencintai, dan kini menikmati. Itulah sebuah proses panjang saya untuk menjadi seorang guru atau pendidik.
Dua puluh tahun silam saya masih duduk di bangku SMP. Tepatnya di SMP Muhammadiyah 1 Jombang. Saya tergolong siswa yang sangat bersemangat dalam belajar di kelas. Saya juga suka sekali mengamati setiap guru. Mulai dari bagaimana cara mengajarnya, cara menjelaskan materinya, cara membangun hubungan emosional serta sosial dengan muridnya, bahkan cara berpakaian guru saat itu pun tidak luput dari pengamatan saya hingga saya pun mempunyai figur guru favourit waktu itu.
Berlanjut sampai saya kuliah, saya selalu mempunyai figur guru idola. Intinya, saya mudah sekali mengagumi kelebihan seseorang entah itu guru, dosen, pengajar atau apalah. Sudah cerdas di tambah lagi dengan kepribadiannya yang hangat. Hmm… membuat saya makin betah diajar oleh mereka. Saya jadi semangat dan nyaman belajar. 😊
Nah, ketika saya menjadi murid, saat itu tidak ada gambaran, bahkan membayangkan saja tidak. Saya berada di depan, menjadi pusat perhatian, setiap gerak tubuh saya diamati dari atas sampai bawah, dari ujung rambut sampai ujung kaki. And now kini benar-benar terjadi dalam hidup saya!
Ternyata untuk menjadi guru tidak semudah yang saya kira. Tidak sekedar mentransfer ilmu, tidak hanya menyampaikan pesan tetapi yang lebih sulit adalah bagaimana mengajar dengan cinta, mendidik dengan hati. Itu point utamanya yang sampai sekarang ini saya masih berusaha dan terus berusaha.
Awal menjadi guru, yang ada di otak saya waktu itu adalah yang penting saya punya pekerjaan, yang penting saya punya gengsi dan tidak di pandang rendah di masyarakat serta anggapan-anggapan yang lainnya.
Intinya saat itu saya mengajar ya sekedar mengajar. Belum ada rasa, belum ada feel, belum ada greget.Tapi kini, perlahan-lahan mindset saya mulai berubah. Tidak lagi mengejar presticious Tidak melulu tentang ukuran nominal, dan tidak pula tentang meningkatkan status karier atau kesejahteraan saya sebagai guru meski saya akui itu juga penting.
Ada yang jauh lebih penting, yaitu saya ingin mengajar dengan cinta, mendidik dengan hati. Saya tidak ingin menjadi guru hanya sebatas birokrat kurikulum yang memberikan doktrin pada murid-murid saya. Saya pun juga tidak ingin menjadi guru yang (maaf) hanya bisa marah, menyuruh, memberikan judgment kepada anak-anak. Tetapi lebih dari itu, saya ingin menciptakan bahwa kelas itu menjadi sebuah tempat yang ideal dalam arti learning to know, learning to be, learning to do, learning to live together.
Saya ingin setiap pesan yang saya sampaikan bisa menghujam ke dalam jiwa, mengakar kuat ke dalam dada. Ya, saya berharap bisa melahirkan generasi yang tidak biasa, tetapi generasi yang memiliki rasa.
Mudah-mudahan harapan itu bisa tercapai dan terlaksana ketika saya bisa mengajar dengan cinta dan mendidik dengan hati.❤
