Oleh : M. Abu Dardak, S. Pd
https://m.facebook.com/story.php? story_fbid=740238846493235&id=100015213796952
Hari ini matahari telah gagah berada di ufuk timur, seakan-akan memberi kabar kepada umat manusia bahwa hari sudah dimulai untuk beraktifitas. Saya dengan barang bawaan yang cukup banyak bergegas naik kekuda besi saya yang sudah menemani saya sejak awal perkuliahan hingga hari ini.
Dengan sekuat tenaga saya menendang pegas starter agar mesin bisa menyala. Sudah siap kuda besi saya untuk berjalan, ternyata ada hal yang lupa belum masuk ke dalam tas, saya turun terlebih dahulu untuk mengambilnya karena bagi saya ini adalah barang penting yang selalu saya biasakan bawa ketika jalan kemana saja.
Setelah memasukkannya ke dalam tas, saya berpamitan kembali pada ibu dan langsung berangkat. Dalam hati saya sudah cemas karena jam terlihat sudah cukup siang bagi saya yang ingin membiasakan disiplin. Sampai di sekolah saya cukup malu ketika melihat anak didik saya sudah berkerumun menunggu kedatangan saya, mereka seraya berteriak memanggil saya ketika saya sudah sampai memarkirkan kuda besi saya alias motor.
“Paaaakk… Ayo, Pak….. Kami sudah siap semua ini….” teriak para siswa-siswi yang terlihat sudah sangat siap untuk mengikuti kegiatan Taruna Melati.
Saya ini adalah seorang guru di Sekolah Menengah Pertama di bawah gerakan Islam besar bernama Muhammadiyah, di sini saya diberi amanah untuk menjadi pembina sebuah ektrakurikuler kepemimpinan yang bernama Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Bagi saya ini adalaha amanah yang sangat saya impikan sejak saya masih aktif dalam ikatan tersebut, berawal dari sebuah gerakan 3T (tertib beribadah, tertib belajar dan tertib berorganisasi) hingga saat ini gencar dengan gerakan kritis transformatif.
Terlahir dari kawah candradimuka, organisasi otonom Muhammadiyah membuat para pimpinan sekolah yakin memilih saya sebagai pembina, meskipun dalam hati ini masih banyak keresahan tentang bagaimana cara membimbing para kader muda ini menjadi kader yang militan.
Setelah saya turun dari motor dan menaruh helm di spion motor, para siswa yang sering saya sebut sebagai kader datang menghampri saya untuk bersalaman. Saya menyapa dan bersalaman satu persatu dengan mereka, ada yang dengan bercanda ada pula yang bersalaman dengan memperlihatakan wajah serius, mungkin karena saya agak telat datang.
Seluruh kader muda ini berkumpul dan membentuk sebuah barisan yang rapi, hingga salah satu dari mereka mempersilahkan saya untuk memberikan arahan. Dengan penuh rasa percaya diri pasca melihat wajah dari para kader-kader muda yang penuh dengan semangat baru dan harapan baru, saya memberi arahan kepada mereka sebelum berangkat pelatihan.
Setelah memberi arahan kepada mereka saya bergegas mengangkat tangan saya dengan mengepalkanya seraya berteriak lantang.
“IPM…!!!” teriak keras saya yang dijawab oleh kader-kader muda dengan berteriak penuh semangat juga.
“JAYA..!!!”
Mungkin bagi sebagian orang pelatihan ini adalah hal yang biasa dan hanya sebatas seremonial belaka, tapi bagi kami (kader) yang sudah merasakan asam manis hingga tawa tangis di organisasi ini merupakan perkaderan formal yang sakral dan yang paling penting adalah tanggung jawab sebagai kader setelah kegiatan Taruna Melati tersebut.
Menatap diri sendiri sebagai pembina bukan persoalan bagaimana mendampingi kader dalam setiap kegiatan, lebih dari itu semua saya meyakini bahwa tugas utama saya sebagai pembina adalah sosok seorang petani yang menanam memupuk dan merawat Ideolgi. Besar harapan saya kedepan terhadap kader-kader muda ini kelak akan bisa menjadi motor penggerak kaderisasi persyarikatan dan amal usaha Muhammadiyah.
