
Sore itu seluruh guru SMP Muhammadiyah 1 Jombang tengah diguncangkan oleh sebuah berita tentang kecelakaan yang menimpa salah satu siswa kelas 7, Muhammad Maximus P. beserta ayahnya.
Saat itu Maximus baru saja pulang sekolah, ia dijemput sang ayah dengan mengendarai sepeda motor. Mendengar kabar meninggalnya Maximus, kami seakan berharap bahwa kabar itu tidaklah benar. Ya, kami berharap Maximus masih selamat dari kecelakaan itu.
Namun takdir Allah harus kita terima dengan ikhlas. Max -begitu ia familiar disapa-, telah dipanggil oleh Allah dalam keadaan masih berjihad fii sabilillah. Ia masih dalam perjalanan pulang menuntut ilmu.
Seketika itu juga tangis kami pecah. Terbayang wajah teduhnya, halus tutur katanya, santun perangainya, tenang pembawaannya dan juga aktif serta beraninya dia untuk tampil dalam berbagai kegiatan pun muncul dalam ingatan kami.
Hingga pagi hari saat di sekolah, baik guru maupun siswa semuanya larut dalam kesedihan. Saling bercerita dan mengingat sosok Max yang sangat rendah hati itu.
Bahkan saat di rumah duka, tangis kesedihan itu masih menetes. Mendengar cerita dari kedua orang tuanya membuat kami semakin bangga dan sayang kepada Max.
“Max sangat ingin sekolah di SMP Muhammadiyah 1 Jombang, bu” ujar sang Ibunda dengan mata yang masih sembab.
“Dulu dia bertanya dulu ke saya, ‘Ibu punya uang apa tidak? Kalau punya, Max ingin sekolah di SMP Muhammadiyah 1 Jombang. Tapi kalau tidak punya ya tidak apa-apa bu, Max sekolah di SMP Negeri saja biar gratis’. Ya saya langsung iyakan bu.. anaknya yang minta, dia yang pengen, anaknya semangat,” tambahnya.
Sang ibunda pun menuturkan bahwa Max sangat senang bisa melanjutkan sekolah di SMP Muhammadiyah 1 Jombang meskipun jarak antara sekolah dengan rumahnya (Ploso) sangat jauh.
“Dia itu anaknya tidak pernah marah meski sering jahil kepada adiknya. Kalau minta apa-apa selalu tanya dulu, ibu punya uang apa tidak? Kalau tidak ya nggak apa-apa. Alhamdulillah anaknya tidak neko-neko,” imbuhnya.
Beliau juga menyampaikan bahwa almarhum Max sempat bercerita kepada kedua orang tuanya jika dia sangat bahagia karena terpilih sebagai anggota IPM, organisasi yang sangat dia idamkan.
“Dia kalau diberi uang saku, seringkali uang sakunya diberikan ke pengemis di pinggir jalan. Sampai dia hafal dengan pengemis itu, kalau pengemis itu tidak ada, dia mencarinya,” kenang ibunya dengan berlinang air mata.
Tak hanya kedua orang tuanya, teman-temannya di sekolah pun mengenal Max sebagai siswa yang pendiam tak banyak bicara namun penuh percaya diri saat di hadapan forum. Ia pun dikenal sebagai anak yang sangat baik, bertanggung jawab dan penuh semangat.
Terima kasih Max, kami ikhlas dengan kepergianmu. Sungguh, kepergianmu ini tak hanya menyisakan duka yang mendalam, tetapi juga meninggalkan hikmah dan kenangan yang teramat indah.
Selamat jalan Max, Allah sangat menyayangimu, jannah untukmu.
———-
Qurani


