Syaqila Rahmania Iffah

KH Ahmad Dahlan adalah sosok yang setia pada satu keyakinan: Islam. Ia memimpin dengan susah payah dan mengajar dalam kondisi gaji yang minim. Jika beliau memiliki banyak donatur, mungkin perabotan rumahnya tidak perlu dijual hanya untuk menggaji para guru di masa awal pendirian Muhammadiyah.

Beliau bahkan dituduh kafir oleh masyarakat dan tokoh agama karena mendirikan sekolah dengan sistem pendidikan modern ala Belanda—yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum. Mushalla yang dijadikan ruang kelas pun sempat dibongkar oleh masyarakat. Begitu besar tantangan yang beliau hadapi.

Namun, KH Ahmad Dahlan berkata, “Kebenaran suatu hal itu tidak ditentukan oleh berapa banyak orang yang mempercayainya.” Ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan panggilan moral dan ajakan aksi yang relevan hingga kini.

Tanggal 18 November 2025 menjadi penanda penting bagi seluruh warga Muhammadiyah. Kita tidak merasakan penderitaan seperti KH Ahmad Dahlan, tapi kita merasakan kebebasan sejati untuk memperdalam ilmu umum dan ilmu agama. Kita tidak lagi dikatakan kafir karena mempelajari ilmu dunia. Tema besar Milad Muhammadiyah ke-113 adalah “Memajukan Kesejahteraan Bangsa.”

Sebagai murid Muhammadiyah, apa yang bisa kita lakukan? Banyak! Contoh sederhana: ketika diajarkan cara memilih sayuran yang baik sesuai kondisi tubuh, sebarkanlah ilmu itu. Jika ada pengetahuan sekecil biji zarrah, sampaikanlah kepada mereka yang belum tahu.

Ikut memeriahkan acara Milad bukan sekadar perayaan, tapi momentum untuk menggali ilmu dan menanamkan semangat berprestasi. Kita tidak perlu sertifikat untuk menjadi bermanfaat. Cukup dengan berpakaian sopan dan menjaga lisan agar ringan di timbangan amal keburukan. Ketika orang lain terinspirasi dari sikap kita, itulah yang disebut “Da’wah bil Haal.”

Kesejahteraan adalah jantung kehidupan. Jika jantung berhenti, maka berhenti pula kehidupan. Muhammadiyah berkontribusi menjaga kewarasan zaman di tengah gempuran zina, praktik perdukunan, dan keluhan yang tak berujung. Lewat pendidikan, rumah sakit, organisasi sosial, dan lembaga keuangan seperti BTM, Muhammadiyah menjaga stabilitas masyarakat.

Contohnya, saya mengikuti kajian Sabtu Pagi yang diadakan PCA. Saya mendapat ilmu, lalu membeli produk dari pedagang lokal di sekitar lokasi kajian. Saya membantu perekonomian mereka sekaligus memenuhi kebutuhan saya. Rumah sakit Muhammadiyah membantu pasien pulih, dan BTM membantu saya mengelola keuangan. Semua ini adalah bentuk nyata kontribusi Muhammadiyah.

Jangan sampai pendidikan kita merosot. Jika itu terjadi, tidak akan ada yang melanjutkan perjuangan para pahlawan Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Hidup tenang bersama ilmu.

Mari, generasi muda, jaga obor pencerahan agar terus menyala. Rawat peradaban, wujudkan Indonesia yang berkemajuan dan sejahtera. Jadilah pemberani yang bijaksana. Milad ini mengajarkan kita untuk hidup berdampingan dan memberi manfaat bagi sesama. Muhammadiyah mengajarkan saya bahwa menjadi Buya Hamka itu sulit, apalagi KH Ahmad Dahlan. Buya Hamka bahkan ikhlas menshalati jenazah Ir. Soekarno. Maka, ada saatnya kita berpikir, tapi jangan lupa perasaan. Itulah murid Muhammadiyah.

Leave a Comment