by: azra farisha Putri ardanny wijayanto

Hari Jumat, 26 September, PR IPM SMP Muhammadiyah 1 Jombang mengadakan Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1 (PKDTM 1) di MTC Wonosalam. Sejak pagi, suasana penuh semangat sudah terasa. Tepat pukul 07.00, sebelum berangkat, seluruh peserta melaksanakan sholat dhuha bersama di sekolah, memohon kelancaran dan keberkahan untuk kegiatan yang akan dijalani. Usai berdoa, kami melaksanakan apel di lapangan belakang sebagai tanda dimulainya perjalanan baru.

Pukul 07.30, rombongan berangkat menuju Wonosalam. Perjalanan yang memakan waktu sekitar dua jam itu terasa menyenangkan, karena kami berangkat dengan semangat yang sama: ingin belajar, berproses, dan tumbuh bersama. Sesampainya di lokasi, kami langsung diarahkan menuju aula untuk pengecekan barang bawaan dan penulisan kontrak belajar. Di ruangan itu, suasana mulai terasa lebih serius—seolah kontrak belajar menjadi tanda kesungguhan kami dalam mengikuti PKDTM. Setelah itu, kami menuju kamar masing-masing, menata barang, dan beristirahat sejenak hingga menjelang sholat Jumat.

Waktu sholat Jumat tiba, semua peserta berangkat berjamaah. Usai sholat, kami turun bersama-sama, menaruh perlengkapan ibadah, lalu menikmati makan siang. Ada rasa syukur mendalam ketika makan bersama, karena makanan yang sederhana itu menjadi istimewa saat disantap dengan penuh kebersamaan, sebagian dibawa oleh orang tua, sebagian dibelikan dengan penuh perhatian.

Siang itu, materi pertama dimulai. Bapak Mauquf Ulil Azmi menyampaikan tentang Kepemimpinan Rasulullah, menghadirkan keteladanan luar biasa dari Rasul sebagai pemimpin umat. Dilanjutkan materi kedua oleh Bapak Amir Hamzah tentang Kemuhammadiyahan, yang membuka wawasan kami tentang pentingnya menjaga jati diri organisasi.

Sore harinya, tibalah saat yang ditunggu-tunggu: outbound. Kami dibagi menjadi lima kelompok dan mengikuti dua lomba seru. Pertama, meniup balon ke dalam gelas lalu mengoperkannya ke belakang. Kedua, lomba mengambil air dan menuangkannya ke belakang tanpa boleh melihat. Gelak tawa pecah, semangat persaingan terasa, dan kebersamaan benar-benar teruji. Momen itu meneguhkan bahwa dalam organisasi, keseruan akan selalu hadir bila kita bekerja sama.

Setelah mandi dan istirahat, kami kembali melaksanakan sholat magrib berjamaah. Malam itu, kami makan soto bersama—suasana hangat, sederhana, tapi penuh rasa kekeluargaan. Perut kenyang, hati senang, semangat pun kembali membara untuk menyimak materi selanjutnya. Bapak M. Chafid Dhotus membawakan materi Ke-IPM-an dan Keorganisasian, lalu dilanjutkan Mas Raihan dengan materi Administrasi IPM (Surat dan Proposal). Para pemateri menjelaskan dengan jelas, menjawab pertanyaan, dan membuat suasana diskusi semakin hidup. Setiap pertanyaan yang muncul diberi apresiasi dengan tanda bintang di kertas prestasi, sementara kesalahan diberi tanda silang. Sistem ini membuat kami lebih berani mencoba, lebih berani belajar.

Malam itu ditutup dengan penyusunan program kerja. Meski diberi waktu hanya 30 menit, semua peserta berusaha serius menyumbangkan ide. Setelah itu, kami menutup hari dengan Pop Mie hangat dan secangkir kopi, lalu beristirahat.

Pukul setengah empat dini hari, kami dibangunkan untuk sholat tahajjud. Suasana hening di tengah dinginnya Wonosalam membuat hati bergetar. Usai tahajjud, dilanjutkan sholat subuh berjamaah. Seperti hari sebelumnya, kultum kembali mengisi setiap waktu sholat. Ada Ananda Zian yang menjadi khatib sholat Jumat, Ananda Naufa dan Zaidan yang menyampaikan kultum magrib dan isya, serta Ananda Ayu dan Axcell yang mengisi kultum tahajjud dan subuh. Pesan-pesan sederhana mereka terasa menyentuh, mengingatkan kami bahwa ilmu dan keimanan harus selalu berjalan beriringan.

Pagi itu, kami melakukan senam bersama untuk menghangatkan badan, lalu dilanjutkan kegiatan jelajah. Walaupun sempat ada sedikit drama selama perjalanan, namun dari sana kami belajar arti sebenarnya dari kebersamaan: saling mendukung, saling menjaga, dan tetap bertahan hingga akhir. Seusai jelajah, kami mandi, berganti baju, lalu sarapan bersama.

Menjelang siang, barang-barang mulai dirapikan, aula kembali dibereskan, dan hati kami dipenuhi rasa syukur. Hari Sabtu, 27 September, kami pulang dengan membawa bukan hanya lelah, tapi juga pelajaran berharga.

Dari PKDTM 1 ini, kami belajar arti kebersamaan, rasa kekeluargaan, dan semangat untuk terus memperbaiki diri. Semua pengalaman, tawa, lelah, bahkan drama kecil yang terjadi, menjadi bagian dari proses pendewasaan kami sebagai pelajar dan calon pengurus PR IPM. Semoga kebersamaan yang terjalin ini terus berlanjut, dan organisasi IPM semakin tumbuh menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Leave a Comment